Search This Blog

Tuesday, May 11, 2010

Aku kenal persis



Dari jauh kelihatan,
Raut wajah cemerut tak keruan,
Membuat satu petanda papan,
Amarah, kecewa atau amaran?

Namun,
Lenggok gaya jalanmu,
Lantang merdu suaramu,
Jua ketegasanmu,
Sangat dikenaliku.

Emang keringatmu keringnya tak pernah,
Menitis merintik mencurah basah,
Bukan membanting membajak sawah,
Tapi membanting membina ukhuwah,
Tautan generasi terhebat ummah,
Bukan inginkan pujian mencurah,
Cukup sekadar difahamilah,
apa hendaknya gerangan jiwa gundah.

Kerlingan sebuah jelingan sinis,
Sudah aku tangkap maksudnya persis,
Kerjaku beres,
Usahaku sukses,
Pasti senyum aku dapati manis,
Lakaran bibirmu kian berkumis.

Guru,
Jiwamu tak kukenali dalam,
Dirimu tak ku senangi pendam,
Kerna ketegasan terkadang buatku kelam,
Tenggelam dalam ketakutan seram,
Jiwamu suram,
tak pernah kusiram,
Apa yang aku dendam,
Terus dia memberi redam,
Kerja, kerja oh kerja rumah bertilam.

Rupanya kini baru ku sedari,
Bila aku belajar berdikari,
Berdiri di mercu sunti,
Meraih sebuah mahkota hati,
Aku sangat berterima kasih lagi,
Pada sebuah usaha gigih sejati,

Guru,
Semakin lama makin aku pasti,
Marahmu kerna kau menyayangi,
Bebelanmu kerna kau mengasihi,
Pukulanmu kerna kau sangat mengingini,
Kau ajari aku mengenal erti,
Senaskah cinta abadi,
Hingga aku rasa ingin berlari sekuat hati,
Menyayangi, mengasihi dan menyintai,
Sebuah bahagia duniawi dan ukhrawi, buatku pasti.

No comments:

Post a Comment